Kampung Kapitan

Kampung Kapitan

Kampung Kapitan merupakan sebuah kampung Tionghoa yang berada di Kec. Seberang Ulu I, Kelurahan 7 Ulu Palembang. Tidak hanya pemukiman warga Tionghoa saja, melainkan tempat ini memiliki sejarah dan budaya etnis Tionghoa sejak masa kolonial Belanda.

Nama “Kapitan” sendiri diambil dari gelar Kapitan Cina yang disematkan pada Tjoa Ham Hin tahun 1855. kapitan cina memiliki arti Mayor Putih yang mengatur wilayah 7 Ulu saat itu. Dari nama inilah kemudian muncul istilah Kampung Kapitan yang dahulu ditinggali masyarakat Tiongkok yang tinggal di Palembang.

Bangunan

Terdapat dua bangunan tua yang tersisa dengan gaya arsitektur Tionghoa yang sangat khas di Kampung Kapitan, Dua bangunan yang tersisa ini dikenal dengan sebutan rumah kayu dan rumah batu. Sesuai namanya, rumah kayu dibangun dari pondasi berbahan dasar kayu. Dengan interior dan langit-langit yang juga menggunakan kayu. Rumah kayu ini berfungsi sebagai tempat ibadah sedangkan rumah batu digunakan untuk pertemuan.

Keunikan lain, kedua bangunan rumah kapitan ini dihubungkan oleh selasar di bagian tengah rumah. Selasar ini akan dibuka saat rumah sedang mengadakan pesta atau pertemuan. Sedang untuk bentuknya, rumah ini berbentuk panggung dengan perpaduan arsitektur tradisional Palembang, kolonial dan tiongkok jadi satu.

Bagian dalam rumah

Di dalam rumah Kampung Kapitan hadir dengan kekentalan arsitektur Tionghoa, yang didominasi nuansa warna merah, dilengkapi 4 kamar besar dan 2 kamar kecil di setiap rumah. Serta dilengkapi dengan penjara tepat di bawah dua rumah tua tersebut.

 


Terdapat benda-benda peninggalan Kapitan yang bisa dilihat. Benda-benda itu antara lain, altar sembahyang, dan beberapa dokumentasi. Dalam meja altar yang jadi tempat pemujaan leluhur itu terdapat abu keturunan kapiten Tjon Ham Him.

Beberapa lambang matahari tersebar di dalamnya. Sebuah kompas menempel tepat di pintu, menjadi perlambang bahwa nenek moyang mereka merupakan seorang pelaut